Perempuan Bersayap

Tuesday, May 05, 2009

I. Hari yang ganjil

I. Hari yang ganjil
Hujan yang deras mengguyur kota Jakarta, menyemarakkan jalan jalan Ibu Kota yang kian hari kian padat. Para pedagang asongan terpaksa bernaung di bawah halte bus yang sudah menua. Tak pelak lagi, halte tua itu penuh dengan orang-orang yang ingin berteduh. Namun langit seakan tidak peduli. Ia terus mengamuk hari itu. Petir dan angin kencang saling sambut menyambut. Setiap orang yang berteduh di halte kini menggerutu, mengutuki alam, kesal karena sekali lagi harus terjebak hujan bersama puluhan orang lainnya. Sementara, anak-anak jalanan dengan riang menyanyikan lagu-lagu yang sedang mewabah untuk sekedar menerima uang recehan sebagai pengisi perut hari ini. Hanya untuk hari ini saja. Hujan deras bagi sebagian orang adalah bencana, tapi bagi anak jalanan bisa menjadi berkah. Puluhan dari mereka, di tengah derasnya hujan, beramai-ramai menghadang mobil, menumpahkan air sabun di kaca mobil dan menuntut uang sebagai imbalan. Jangan harap mereka akan beranjak, jika belum menerima uang. Mereka adalah segerombolan orang terbuang yang militant untuk bertahan hidup. Itulah Jakarta, ibu kota dari sebuah negeri kaya penuh kemiskinan. Ia memberi hidup penuh kemewahan hanya pada segelintir orang. Jutaan lainnya? silahkan saling menyingkirkan untuk hidup yang lebih baik. Memang hanya ungkapan pesimis yang pantas bagi negeri ini, terutama di ibu kota.

Seorang lelaki tua, dengan muka lelah tampak setia berdiri di halte bus menanti hujan berakhir, bersama dengan puluhan orang lainnya. Orang tua ini cukup menarik perhatianku. Pertama-tama baju yang ia kenakan bukanlah baju yang sederhana. Ia cukup rapi dan wah secara penampilan, namun ia tidak mengenakan sendal ataupun sepatu. Telanjang kaki dengan hanya membawa buntelan plastik hitam, yang tak kutahu apa isinya. Didekapnya tas plastik itu dengan erat. Dari cara ia mendekap, sepertinya barang itu cukup berharga. Kuperhatikan ia lekat-lekat, bertanya dalam hati tentang isi plastik itu. Rasa penasaran memenuhi benakku. Apa isinya? Apakah begitu penting? Sepenting apa? Beribu pertanyaan menyergapku. Rasa ingin tahu mengusikku. Kucoba menghentikan rasa ingin tahuku tapi percuma. Ia terus mendesak, semakin dekat dan dekat. Kurang ajar memang rasa ingin tahu itu, terus mengejar dan membuat kita terdesak di sudut nalar kita. Orang tua itu menoleh kearahku. Gugup, kupalingkan wajah, berharap ia tidak menyadari mata liarku. Namun, adalah mustahil untuk tidak menyadari mata liarku, kekurangajaranku atas keingintahuan yang tak tahu malu. Orang tua itu sedang menatapku. Ia pasti tahu telah merebut sebagian besar dari perhatianku, di tengah hujan deras dan nyanyian anak jalanan yang terdengar seperti lolongan kesepian.

Kesepian… itulah yang mengusikku. Orang tua itu kesepian. Tatapan matanya merindukan seseorang. Mungkin keluarga. Mungkin cinta pertamanya yang gagal. Mungkin… tetap seribu kemungkinan tapi aku yakin ia kesepian. Dan damn! Perhatianku kembali pada tas plastik itu. Sementara langit semakin gelap dan hujan mereda, aku masih dipusingkan dengan tas plastik hitam yang dibawa orang tua itu. Gila! Setelah seharian aku berjibaku dengan teriknya matari mengejar berita, kini aku dipusingkan dengan hal sepele. Sebuah plastik hitam milik orang renta. Tak perlu kusembunyikan rasa ingin tahuku, karena toh percuma. Terlebih di halte bus, hanya tertinggal kami berdua. Kudekati orang renta itu, kutimpalkan sebuah senyuman padanya. Matanya yang sudah keriput oleh usia, menatapku dengan ramah. Berdasarkan pengamatanku selama di halte ini, usianya paling tidak sekitar 70 tahun. Seusia dengan kakekku yang sering kali menanyakan namaku tiap kali bertemu, karena sudah terlalu pikun.

Kami duduk bersebelahan, meski tiada kata terucap dari kami. Ia membisu dan akupun membisu, tapi merasa nyaman satu sama lain. Aku berdehem, dan memulai sebuah dialog.
“Bapak sendirian? “
Hah… pertanyaan konyol karena jelas aku tahu dia sendirian selama setengah hari di halte bus yang seperti mau roboh ini. Basa-basi yang paling gagal di muka bumi. Aku memang tidak suka basa-basi dan cenderung blak-blakan. Selalu gagal jadi penipu dan berpura-pura. Sungguh karakter yang menyebalkan. Aku, ibarat ikan dalam aquarium, yang begitu transparan. obvious. Mata orang tua itu kembali menatapku. Hangat.
“Saya menunggu anak saya”
Kepalaku reflek mengangguk tanda mengerti, hanya saja pertanyaan kembali bertumpuk dalam kepalaku. Akhirnya kumulai sebuah perkenalan.
“Saya Lentera, panggil aja Tera”
Bapak tua itu sekedar mengangguk. Senyum tersungging di bibirnya. Sepertinya perkenalanku tidak berbalas. Kukeluarkan sebatang rokok dari saku bajuku dan kunyalakan. Rasanya, hujan yang reda meninggalkan hawa dingin sehingga menumbuhkan keinginanku merokok.
“Anak saya juga merokok…”
“Anak bapak cewek?”
Bapak tua itu terkekeh… lalu melanjutkan bagian dialognya.
“Anak saya lelaki. Ia perokok. Perokok berat. Anak saya orang hebat. Sangat hebat”
Aku membalas senyumnya sambil sesekali menghisap rokok. Kueratkan jaketku, karena hawa dingin makin menggigit. Sementara Bapak tua itu tampak tenang. Mungkin, ia tidak kedinginan di balik jas hitamnya. Sejenak kuterpikir oleh jawaban sang bapak. Anak hebat katanya, sedangkan orang tuaku sendiri tak pernah mengatakan aku ini hebat, meski berani kutantang kota Jakarta, bergulat dengan rasa lapar dan letih.
“Hebat ya. Tentu juga karena Bapak orang hebat”
“Saya hanya orang renta yang hanya sanggup bernafas di bumi yang sudah pengap. Saya orang biasa, terlahir biasa. Tapi anak saya orang hebat”
Aah terusik aku dengan anak sang bapak, seberapa hebat anaknya ini. Mengapa dia begitu menyanjung sang anak sedemikian rupa.
“Anak saya seorang tukang becak”
Ekspresi terkejut tampak jelas di wajahku.
“Anak saya seorang tukang becak sekaligus seniman.”
Ah… seniman dan tukang becak. Perpaduan profesi yang ganjil, tapi menarik membuatku tersenyum ganjil.
“Aneh ya?” Tanyanya sambil terkekeh, akupun ikut terkekeh. Mesra betul obrolan kami, akupun tak sadar ketika waktu terus bergulir hingga malam larut.
“Kenapa anak bapak memilih dua profesi itu?”
“Hei… siapa mau jadi tukang becak? Negri ini yang tidak memberi pilihan. Kalau jadi seniman sih emang hobi. Panggilan jiwa.”
Nah, kini aku baru tertawa lepas. Menyenangkan juga kakek satu ini.
“Anak saya sudah meninggal, tapi semangatnya tetap hidup”
Terdiam. Hening kami berdua, namun kakek itu tersenyum. Lembut.
“Saya harus pulang nak. Tentu kau juga harus pulang. Lelah setelah bekerja bukan?”
“Tunggu kek, saya tadi agak heran dengan kantung plastik yang kakek bawa. Yah, mungkin tidak sopan, tapi saya sungguh- sungguh penasaran”
Tiba-tiba kakek itu tertawa terbahak-bahak, sementara aku hanya terbengong-bengong. Tidak siap rasanya dengan responnya yang jauh dari perkiraanku.
“Ambillah” Kata kakek itu
Aku lebih terheran lagi.
“Bukalah sesampai kau di rumah. Agar rasa penasaranmu itu terkuak dengan indah”
“Tunggu, baju kakek sangat rapi, tidak seperti …, yah orang miskin..”
“Tak perlu tahu saya ini siapa” kata kakek itu memotong perkataanku, dengan pelan orang tua itu melangkah meninggalkan halte yang busuk ini. Aku masih tersenyum ganjil. Malam yang ganjil. Halte bus yang ganjil dan kakek yang ganjil. Sungguh hari yang ganjil.

Sesampai di kamar kosku yang sempit dan ala kadarnya, kubuka plastik dari sang kakek. Hawa dingin seusai derasnya hujan masih menyelimuti malam, kerekatkan jaketku. Seiring dengan itu, kuambil sebuah kaleng. Sebuah barang yang tidak istimewa sebenarnya, tapi mengapa kakek itu membawanya? Jika memang itu barang yang penting, mengapa diberikan padaku, yang hanya dikenalnya sesaat. Memang kakek yang ganjil. Kubuka kaleng itu dan beberapa gulungan kertas kukeluarkan dari kaleng itu. Ternyata, beberapa karya puisi dan salah satu darinya membuatku tertarik. Menarik. Anaknya memang seorang tukang becak, tapi juga seorang seniman. Meski hanya seniman kecil.

Kembalikan jiwa, pikiran dan tubuh kami
Ketika Bumi baru saja terlahir, kau berseri
di dalam tanganmu tergenggam dunia…
Dunia beserta alamnya milikmulah semua
Ketika usia bumi masih kanak-kanak
di tanganmulah tergenggam dunia
Jiwamu hanyalah milikmu, pikiranmu hanyalah milikmu, tubuhmu hanya dirimulah tuannya
merdeka sepenuhnya
Ketika Usia bumi beranjak remaja, dunia mulai terlepas dari genggamanmu…
Tanganmu tak mampu lagi menggenggam,duniapun terlepas
jiwamu tak lagi milikmu,
pikiranmu tak lagi milikmu,
tubuhmu tak lagi menjadi milikmu.
kau tak bisa lagi menjadi tuan bagi tubuhmu
kau tidak lagi merdeka
Ketika usia bumi beranjak dewasa, dunia semakin gelap, jauh dari gapaian tanganmu
pikiran, jiwa, dan tubuhmu sudah tak kau kenal
karena tidak kau miliki
Ketika Bumi semakin dewasa, matari terbit
Duniapun sedikit bercahaya
Akan tetapi dunia masih jauh dari gapaian
Tubuhmu, pikiranmu, jiwamu masih terkungkung
Terkungkung oleh sekat sekat menyakitkan
Kini bumi melampaui kedewasaan
Usianya Tidak lagi muda
Namun, kau masih terkungkung oleh sekat menyakitkan
Tanganmu terus menggapai, tanpa kenal lelah
melewati onak dan duri
Aah… engkau perempuan
Teruslah berjuang meski jalanmu penuh onak dan duri
KObarkanlah perlawanan, jangan menyerah
Karena Bumi melahirkanmu bukan untuk menjadi bunga kehidupan,
tapi pelaku kehidupan
Karena bumi melahirkanmu bukan untuk menjadi bunga revolusi,
tapi pelaku revolusi
Karena Bumi melahirkanmu sebagai pemimpin,
bukan hanya sekedar pendamping
Raihlah dunia, karena sejatinya itulah milikmu
Rebutlah kembali jiwa, pikiran dan tubuhmu
Karena sejatinya semuanyalah milikmu
Rebutlah kemerdekaanmu sebagai manusia utuh
Di ujung jalan tak bertepi
March 08, 2000

0 Comments:

Post a Comment

<< Home